Selain mendapat serbuan drama korea, penonton Indonesia sebenarnya juga dibanjiri serial-serial negeri Paman Sam. Meski tak semasif drama Korea, serial Amrik diam-diam sudah lama masuk dan memiliki penggemar fanatik tersendiri. Hanya saja segmentasi penggemarnya memang tidak begitu luas.

Sebabnya, akses terhadap serial tersebut memang tak seperti seri drama Asia yang hampir setiap hari tayang di layar kaca. TV-TV nasional kita kurang antusias membeli serial Amrik karena selain pasarnya terbatas, harga jualnya juga kelewat mahal. Akhirnya, serial-serial ini pun rata-rata hanya bisa diakses melalui jalur berbayar, dari TV, DVD ataupun sistem online berbayar. Tak sedikit juga yang hobi mendapatkannya dari jalur bawah tanah, mengunduh gratis atau membeli DVD bajakan.

Serial-serial barat yang paling banyak diminati umumnya bertemakan dunia kriminal yang turut bersentuhan dengan hukum dan politik. Dalam daftar ini, kita disuguhi judul-judul seperti CSI, Law and Order, The Closer, Suits, Homeland, Fringe, dan masih banyak lagi.

Mengikuti isi sinetron-sinetron diatas membuat kita mau tidak mau disuguhi cerita bagaimana sistem hukum di negeri polisi dunia bekerja. Bagi kita di Indonesia, yang tidak menganut sistem hukum Anglo Saxon, tentu pada mulanya akan bingung dengan cara kerja polisi, jaksa, dan pengadilan disana. Sistem kita memang berbeda. Kita yang mewarisi sistem kontinental dari Belanda tentu asing dengan sistem Amrik yang mengadopsi sistem common law dari induknya di Britania.

Namun tak ada ruginya juga kan ikut mengamati bagaimana penegak hukum di negeri Obama ini bekerja. Meski ini hanyalah dunia film nan penuh fiksi tapi kita pasti sepakat terlihat kesan bahwa penegakan hukum di negeri Abang Sam ini sudah sangat profesional; hukum benar-benar dijunjung tinggi.

Proses penyidikan sangat modern. Tes DNA sudah bukan barang mewah bahkan untuk kasus “sepele” sekalipun. Elemen penegak hukum sangat disiplin dengan pengawasan yang ketat. Hak-hak terdakwa selalu dijunjung tinggi. Sistem persidangan berjalan fair. Keadilan tak sulit ditemukan. Overall, inilah wajah demokrasi ideal yang selalu kita dambakan.

Melihat “utopia” dari sinetron-sinetron ini, muncul pemikiran lugas; apa iya keterpurukan penegakan hukum kita juga karena andil dari sistem hukum yang berbeda dengan Amerika?

Perbedaan itu, misalnya, terekam jelas dalam setiap serial kriminal yang sedang tayang. Pertama, kita selalu mendengar istilah-istilah yang tak familiar semisal Miranda Right, Sherif,  coroner, dll. Berikutnya, dalam setiap penyidikan suatu kasus kejahatan, kita dipertontonkan kesigapan sang detektif. Lihatlah kecanggihan kerja para detektif di CSI yang mungkin membuat kita berdecak kagum. (Kira-kira detektif kita kerjanya seperti itu gak ya?)

Detektif adalah istilah untuk penyidik di departemen kepolisian (Police Department). Nama kepolisian kota-kota di Amerika memang khas dengan singkatan berakhiran-PD (Police Department), setiap serial film biasanya bersetting di salah satu departemen kepolisian.

Kedudukan setiap departemen kepolisian secara struktural berada di bawah pemerintah daerah (kota), meskipun dalam pelaksanaan tugasnya tetap bersifat independen. Sebagai negara federal, masing-masing Negara Bagian/State memiliki otonominya sendiri sehingga antar departemen kepolisian hanya memiliki batas yurisdiksi meliputi daerahnya sendiri. Untuk lingkup federal, organisasi kepolisian yang berada di bawah pemerintah pusat adalah FBI, Federal Bureau Investigation.

FBI menangani jenis kejahatan pada level tertentu atau mencakup lintas State. Police Department tidak berada “di bawah” FBI namun FBI berhak mengambil alih penanganan suatu kasus dari tangan departemen kepolisian sesuai kriteria tertentu. Selain keduanya, masih ada organisasi kepolisian lain seperti DEA, US Marshal, dll. dengan kewenangan yang berbeda-beda.

Jadi organisasi kepolisian di Amerika berbeda dengan di kita yang hanya memiliki satu rantai garis komando pusat dari Mabes Polri hingga satuan tingkat Polsek di seluruh wilayah negara Indonesia.

Image

Organisasi di kepolisian dan kejaksaan Amerika hampir sama alur strukturnya. Perbedaannya, kepala departemen kepolisian di Amerika dipilih oleh pimpinan daerah (gubernur atau walikota). Sementara jaksa wilayah di daerah dipilih oleh warganya (di beberapa daerah, hakim juga dipilih langsung oleh rakyat). Proses pemilihan pimpinan kepolisian (Komisaris) sangatlah ketat. Provos akan menyeleksi nama-nama calon untuk selanjutnya diajukan kepada walikota untuk dipilih. Gambaran seleksi yang ketat namun sangat fair dalam pemilihan ini terlihat dalam serial The Closer (season 6). Apa sistem seleksi pejabat kita juga sebagus itu ya? Aaaamiiiin..

Kerja pengadilan di Amrik juga jauh berbeda. Mereka yang menganut sistem Common Law memiliki dua jenis persidangan, sidang dengan juri (jury trial) atau persidangan biasa (dengan hakim sebagai satu-satunya pemutus perkara).

Image

Tetapi sebelum menuju persidangan, banyak kasus (terutama kasus perdata) di Amrik yang seringkali sudah settled sebelum masuk meja pengadilan. Mediasi antara penggugat dan tergugat diakomodasi oleh penegak hukum secara fair. Tinggal kelihaian kedua pihak beserta para lawyer yang akan menentukan arah kemenangan negosiasi. Serial Suits (2011) banyak menyorot sepak terjang lawyer Amrik yang bertarung di arena ini.

Tidak sedikit juga kasus yang berkategori David vs Goliath. Namun prinsip “kesetaraan di muka hukum” diaplikasikan dengan baik disana sehingga “rakyat kecil” tak selalu harus berakhir dengan terinjak-injak. Ketentuan Pro Bono dijalankan dengan sungguh-sungguh. Pengacara besar pun tidak ogah-ogahan setiap kali memperjuangkan kasus pro bono semacam itu.

Bagaimana dengan pelaksanaan pro bono di negara kita? Entahlah. Padahal tidak jarang kita melihat ada kasus melibatkan David-david miskin yang dengan kata hukum saja mereka tidak tahu artinya. Bagaimana nasib mereka? Sekali lagi, entahlah.

Kembali ke persidangan. Di sana, terdakwa kasus pidana dapat memilih diantara kedua jenis persidangan tersebut. Jika memilih jury trial maka keputusan nantinya berada di tangan sejumlah juri (12 orang). Di persidangan ini, terdakwa atau pembelanya dituntut piawai untuk benar-benar meyakinkan juri.

Nah kalau dibayangkan, sistem jury trial ini sekilas pas sekali andai bisa ada di kita. Saat pengadilan kita diisi instrumen hakim yang sering kali dipertanyakan integritasnya, sistem sidang juri seolah bisa jadi solusi. Apalagi kalau sudah menyentuh masalah koruptor. Ketidakpercayaan pada hakim yang suka memvonis ringan mungkin akan dijawab dengan keputusan juri.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, apa iya kita siap. Jangan-jangan nantinya ketidakpercayaan pada hakim hanya akan berpindah tempat pada ketidakpercayaan pada juri. Belum lagi kalau harus dihadapkan pada proses seleksi juri, semakin banyak celah yang berpotensi menjadi lahan-lahan baru ketidakpercayaan publik.

Image

Sama halnya dengan sistem dan organisasi penegak hukum negara kita yang berbeda dengan di Amrik. Naif rasanya jika perbedaan ini dijadikan alasan atas kemunduran penegakan hukum di negara kita. Pada intinya, bukan sistem mana yang paling baik. Keduanya sama-sama sudah teruji di tempat yang berbeda, sekarang tinggal pelaksananya saja khan. Dengan sistem yang ada sekarang pun, kalau kita sudah siap untuk menjadi profesional dan berintegritas, tentu saja pasti bagus juga hasilnya.

Sembari menunggu membaiknya penegakan hukum di negeri sendiri yuk mari kita tonton lagi sinetron dari negeri seberang… 🙂

*lanjut nonton*

Advertisements

Suhu ruangan yang sangat dingin menyambut peserta konferensi pagi itu. Kehangatan panitia yang selalu menebar senyum seolah tak mampu mengusir dingin yang kadung menusuk kulit. Beruntung ada beberapa rekan alumni kampus yang saya kenal, saya pun mencoba mengalihkan hawa dingin dengan mengobrol bersama mereka.

Ini pertama kalinya saya mengikuti konferensi internasional. Temanya juga tentang pasar modal syariah, tema yang sebenarnya bukan ranah pekerjaan saya selama ini. Karena itu pula, tidak banyak sebetulnya materi yang saya harap bisa dibawa dari konferensi ini kecuali materi yang berguna untuk bahan skripsi saya. Hanya satu yang ingin saya cari tahu dari kesempatan ini: suasananya. 

Terbiasa dengan acara seminar lokal, saya jadi begitu penasaran seperti apa kalau orang-orang dari luar sana ketika berdiskusi. Betulkah mereka sehebat yang dikatakan orang? Lalu seperti apa standar konferensi internasional itu? Hanya itu yang ingin saya pelajari.

Konferensi diadakan pada 19-20 Juni 2012. Penyelenggaranya adalah Islamic Research and Training Institute (IRTI), Asian Development Bank dan Bapepam-LK.  Standar tinggi konferensi sudah jelas terasa dalam pemilihan venue di hotel Borobudur, hotel bintang lima milik taipan Tommy Winata ini. Peserta konferensi mencapai 250 orang, dari dalam dan luar negeri. Para pembicara sebagian besar berasal dari negara-negara besar di Asia bahkan Eropa seperti Malaysia, Iran, Pakistan, UK, serta seorang lagi dari Maldives. Pembicara lokal banyak juga yang ikut ambil bagian meski jumlahnya tidak sampai separuh dari total pembicara.

Ekspektasi saya sebenarnya menurun saat sadar acara sudah terlambat 30 menit ketika dimulai. Bahkan acara inti yang dimulai setelah coffee break ikut-ikutan molor selama satu jam. Entah ini karena di Indonesia atau memang beginilah best practice-nya. Namun semua peserta seminar sepertinya tak terlalu menghiraukan masalah ini. Jadi ya kesimpulan saya, it’s not a big deal.

Konferensi dibagi empat sesi utama. Masing-masing sesi dibagi dalam dua kegiatan yakni panel discussion dan research presentation. Urusan pemahaman materi, tak usah lah pembicara itu diragukan pun cara mereka tampil di muka umum. Semua sudah expert. Satu catatan saya, presentasi tadi cukup mengagetkan karena seluruh pembicara tidak memaksimalkan fasilitas multimedia yang canggih untuk mendukung presentasinya. Mereka memang menggunakan slide power point untuk visualisasi materi tapi itu pun power point yang sangat biasa. Tak ada yang istimewa, layoutnya sangat simpel bahkan sebagian besar mengambil template standar yang ada di aplikasi Ms. Power point. Yakinlah, powerpoint buatan teman-teman saya di kampus masih jauh jauh lebih baik dari itu. Saya tidak tahu penyebabnya. Apakah itu memang kebiasaan semua pembicara di setiap konferensi atau mereka mungkin tidak terlalu menganggap tinggi prestise dari konferensi ini.

Dari seluruh pembicara yang ada, hanya dua yang paling menyita perhatian. Dua-duanya bahkan pembicara nasional, Syafii Antonio dan Adiwarman Karim. Ini bukan penilaian subyektif semata.Saya bisa merasakan suasana konferensi lebih bergairah saat mereka berdua berbicara. Berbeda dengan pembicara lain yang tidak sedikit diacuhkan peserta, kedua pembicara kita ini banyak mendapatkan atensi dari peserta. Indikatornya, pertanyaan dan interaksi peserta saat sesi mereka jauh lebih banyak dibanding pembicara lain. Sebagai perbandingan, ada dua sesi diskusi yang bahkan tidak mampu mengundang satu pun pertanyaan dari peserta. 

Dari sini, saya semakin berkeyakinan bahwa kita memang tidak lebih buruk dibanding mereka-mereka dari luar sana. Bahkan di mata saya, orang-orang kita masih jauh lebih baik. Tak pantas lah kalau kemudian kita merasa minder di hadapan partner-partner kita dari seberang.

Masalah materi, saya tidak bisa banyak berbagi. Di kampus saja saya sering ketiduran, apalagi di konferensi yang suhunya bikin gigi gemeretak ini. Saya hanya ingin menegaskan kesimpulan utamanya saja: pasar modal syariah akan terus berkembang karena potensinya masih luar biasa besar. That’s all. Hehehe…

Posted by: ipung efendy | March 23, 2012

Bungkus Rokok

Bungkus rokok beraneka warna terhampar di meja kantin tempat kami bercengkerama siang ini. Masing-masing warna mewakili merk tertentu. Paling banyak bungkus putih dengan logo berwarna merah, biru, atau hijau yang mencolok. Warna ini sudah jamak mencitrakan rokok berjenis “mild”, rokok putih dengan kandungan tar dan nikotin yang rendah.  Dan disini, bungkus-bungkus rokok ini hanya menjadi onggokan sampah yang tak berguna. Pemulung pun tak berniat untuk mengambil karena tak ada harganya. 

Saat saya kecil, bungkus rokok termasuk satu dari sekian banyak barang mainan anak-anak di kampung. Kami memperlakukan bungkus rokok seperti hal nya uang. Masing-masing bungkus rokok memiliki nilai berdasarkan merknya. Bungkus paling murah adalah rokok merk “Grendel”, sedangkan yang paling mahal merk “Gudang Garam Surya 12” atau kami menyebutnya “Rokok Surya”.

 Kami menggunakan “uang” tersebut sebagai taruhan. Setelah uang taruhan terkumpul, kami akan menyusunnya menyerupai piramid, lalu meletakkannya di atas tanah yang dilingkari sebuah garis. Kemudian dari jarak beberapa meter, para petaruh secara bergiliran harus membidik piramid tersebut dengan lempengan batu. Siapa yang berhasil mengenai piramid dan membuat lembaran uang tadi terlempar keluar dari lingkaran maka ia berhak memiliki uang tersebut.

 Permainan ini rasanya sudah punah. Tak pernah lagi saya melihatnya bahkan sejak saya lulus SD. Anak-anak zaman sekarang mungkin juga tak akan tertarik lagi pada permainan ndeso seperti ini.

 Permainan sekarang serba digital. Semua perangkatnya tersedia. Kapan saja kita bisa langsung memainkannya. Ada atau tak ada partner bermain, tak jadi masalah. Beda dengan permainan tradisional. Harus ada persiapan dan perngorbanan untuk modal bermain, pun butuh banyak teman untuk menghidupkan permainannya. Hasilnya ada banyak sekali nilai kehidupan yang bisa dipelajari si anak. 

Saya pun berpikir tentang masa depan anak saya. Ia yang akan besar di kota kosmopolitan ini, akan bergelut dengan lingkungan yang serba instan. Bisakah di masa tumbuh kembangnya nanti ia mendapatkan pengalaman seru seperti saya dulu. Entah bagaimana saat dewasa kelak ia akan mengenang masa kecilnya.

Posted by: ipung efendy | March 10, 2012

Etika Bisnis

Sepekan terakhir ini, media Filipina ramai memberitakan adanya tuduhan penyuapan yang dilakukan pengusaha judi asal Jepang kepada regulator Filipina. Penyuapan ini diduga bertujuan agar pemerintah memuluskan keinginan Kazuo Okada, nama pengusaha tersebut, untuk membuka resor judi di Filipina. Kasus ini pun akhirnya mendatangkan masalah terhadap bisnis Okada di Macau dan Amerika serikat.

telegraph-news.com

telegraph-news.com

Belum lama kita juga dikagetkan terkuaknya skandal laporan keuangan Olympus yang membuat geger dunia bisnis internasional. Michael Woodford, CEO Olympus, mempertanyakan beberapa pos pengeluaran tak wajar yang dicatat dalam laporan keuangan. Dana miliaran dolar yang dilaporkan sebagai kegiatan investasi dan akuisisi perusahaan dicurigai mengalir kepada kelompok Yakuza, kelompok mafia terbesar di Jepang. Ada juga spekulasi yang menyebutkan tindakan ini dilakukan untuk menutup-nutupi kerugian investasi yang dilakukan para direksi terdahulu. Karena keusilannya ini, Woodford akhirnya didepak dari kursi CEO Olympus.

Ada sebuah paradoks dalam fenomena ini.

Orang Jepang terkenal sebagai individu dengan tingkat disiplin yang tinggi. Mereka pun sangat menjunjung tinggi norma yang ada. Kedisiplinan ini membawa Jepang menjadi bangsa yang ulet dan pekerja keras. Tak heran Jepang mampu menjadi salah satu negara termaju di dunia meskipun sempat hancur lebur pasca perang dunia kedua.

Nilai-nilai budaya Jepang menjadi sangat dikagumi dunia. Tetapi dengan dunia yang terus melesat mengikuti arus globalisasi, Jepang seakan turut terseret dalam pusaran keburukan. Terlebih di dunia bisnis modern yang meniscayakan sebuah kompetisi super ketat, hukum rimba pun menjadi hukum tak tertulis yang berlaku bagi semua penghuninya. Pengusaha Jepang pun tak dapat mengelak. Singkatnya, pengabaian terhadap norma bukan sesuatu yang asing lagi bagi mereka. Dimana etika para pengusaha dari negara yang terkenal akan etika kejujurannya itu?

Sulit untuk memahami sebenarnya etika bisnis itu seperti apa. Kalau ada pebisnis yang menyuap atau memanfaatkan konsep nepotisme untuk memuluskan tujuan bisisnya, apakah itu termasuk beretika? Etika yang mana? Etika toh memang bersifat abu-abu. Jika misalkan penyuapan, nepotisme, dan sejenisnya adalah sebuah kelaziman yang diakui dan dimaklumi oleh masyarakat, maka itulah etika yang berlaku. Pada titik ini akhirnya tak ada lagi yang bisa diharapkan dari etika itu sendiri.

Salah satu dasar dalam konsep etika bisnis yang sering didengung-dengungkan adalah kepatuhan terhadap hukum. Konsep ini secara jelas menegaskan korelasi etika dengan hukum. Etika tak lagi menjadi area abu-abu setelah disandingkan dengan hukum yang bersifat hitam-putih.

Dalam konteks ini, hukum masih tak bersepakat dengan pemakluman pada tindakan kotor pebisnis di atas. Penyuapan, nepotisme dan sejenisnya dilarang berdasarkan hukum pidana yang berlaku.Maka jelas apa yang dilakukan pebisnis kotor itu disimpulkan sudah melanggar etika.

Hanya saja fakta seringkali berkata lain, hukum lumrah dilanggar. Dengan segala resource yang dimiliki, pengusaha mampu melakukan segala cara untuk mengakali peraturan yang ada. Hukum pun menjadi macan ompong saat harus berhadapan dengan kelompok pengusaha besar.

Dengan kondisi ini, masyarakat sulit berharap para pengusaha-pengusaha kotor itu akan selalu menerapkan etika kejujuran. Harapan kita akhirnya hanya pada penegakan hukum yang fair, sesuatu yang sulit ditemukan di Indonesia.

Semoga saja harapan itu segera terwujud.

Posted by: ipung efendy | February 28, 2012

Empati

Image

poskota.co.id

Ada yang baru di mainstreet dining Gandaria city hari ini. Beberapa stand tampak ditutupi kain gelap pertanda sedang dilakukan renovasi di dalamnya. Di sudut lain, terlihat satu coffeshop baru yang makin menambah hiruk-pikuk barisan penjaja kebutuhan perut manusia di pusat perbelanjaan ini.

Mungkin anda berpikir ini adalah tempat makan langganan saya. Tidak. Saya hanya hobi berjalan-jalan menyusuri mainstreet ini. Minimal seminggu sekali saya sempatkan diri untuk berkunjung. Bukan untuk berbelanja atau sekedar cuci mata, tetapi untuk mengunjungi sebuah toko buku di mall besar ini.

Setiap kali datang, selalu saya sempatkan menyusuri mainstreet dining yang terletak di lantai dasar. Tujuan saya bukan untuk makan atau nongkrong, hanya berjalan-jalan saja. Ada perasaan menarik setiap kali menyaksikan deretan stand-stand yang berjejer menawarkan makanan dan minuman dengan beragam rupa nan menggugah selera. Pun saat mengamati  puluhan wajah dengan beraneka bentuk di balik setiap meja penghidangan.

Mereka lah obyek-obyek yang menarik perhatian saya. Menyaksikan mereka menyantap menu yang harganya tak bisa dibilang murah menjadi semacam penggugah batin saya. Saya selalu membayangkan bagaimana kehidupan mereka, apa pekerjaan mereka, bahkan darimana uang yang mereka pakai untuk memuaskan makan mereka.

Ada anak-anak muda yang tampak bergerombol di sebuah kafe, masing-masing khusyuk dengan gadget-nya. Ibu-ibu muda bercengkerama di sebuah meja, sesekali tergelak dengan girangnya. Mungkin mereka sedang menggosipkan sesuatu. Pria paruh baya yang duduk menyendiri dengan secangkir espresso mungil di depannya, saking mungilnya bahkan mungkin akan habis hanya dengan sekali teguk. Mereka seolah tak peduli dengan harga. Lucu juga, padahal di luar sana, banyak yang harus berjuang membanting tulang satu sampai dua hari untuk mendapat upah setara harga seteguk kopi itu.

Sering kali setelah puas berkeliling di mainstreet, saya kemudian pulang melewati jalanan pemukiman padat penduduk persis di samping barat mall Gandaria City. Kedua tempat ini hanya dipisahkan sebuah tembok memanjang dan seruas jalan kampung yang sempit. Dengan jarak sedekat ini, pemandangan yang terlihat sungguh jauh berbeda. Yang satu apartemen mewah nan menjulang tinggi dengan sejuta fasilitas yang serba wah, yang satu lagi pemukiman kumuh dengan bau sampah dan sungai berair hitam pekat yang memaksa kita sebisa mungkin menutup hidung.

Saya melihat kemewahan dari para hedonis yang bergelimang rupiah beradu dengan masyarakat kelas bawah yang berkutat dengan beratnya hidup. Ini lah potret ibu kota. Ada yang dimanja, ada yang dibiarkan merana.

Siapa yang harus bertanggung jawab dengan kondisi ini?

Pasti dengan bersemangat kita akan mengarahkan telunjuk pada mereka yang duduk di pemerintahan. Kalau mau jujur, sebenarnya kita lah yang sepatutnya juga bertanggung jawab. Mari kita renungkan, apa yang sudah kita lakukan untuk membantu saudara-saudara kita itu? Sebagian besar pasti mengaku tidak ada.

Nah sebenarnya kita masih punya empati gak sih???

Posted by: ipung efendy | January 13, 2012

Telaah atas Dasar Hukum Sensus Pajak Nasional (SPN)

Sensus Pajak Nasional (SPN) merupakan kegiatan pengumpulan data mengenai kewajiban perpajakan dalam rangka memperluas basis pajak dengan mendatangi subjek pajak (orang pribadi atau badan) di seluruh wilayah Indonesia. Tujuan utamanya adalah menjaring seluruh potensi perpajakan. Dasar hukum utama pelaksanaan SPN adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 149/PMK.03/ 2011 tanggal 12 September 2011 tentang Sensus Pajak Nasional.

Untuk ketentuan teknisnya, SPN didasarkan pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per – 30/PJ/2011 Tentang Pedoman Teknis Sensus Pajak Nasional. Perdirjen ini mencantumkan konsideransi yakni Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 149/PMK.03/2011 tentang Sensus Pajak Nasional.

PMK Nomor 149/PMK.03/ 2011 tanggal 12 September 2011 tentang Sensus Pajak Nasional. menggunakan konsideransi pertimbangan pada pasal 9 ayat (3) Undang-undang PBB serta amanat Presiden melalui Nota Keuangan yang disampaikan pada 16 Agustus 2011. Selanjutnya konsideran merujuk pada Undang-undang KUP, Undang-undang PPh, Undang-undang PPN, Undang-undang PBB, dan Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010.

Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi di dalam PMK ini. Pertama, dasar hukum pelaksanaan SPN sangat lemah. Dalam konteks ini, pembahasan diarahkan pada pembahasan sesuai aspek hukum dan di luar substansi SPN yang tujuan utamanya sebenarnya memang baik, untuk menjaring seluruh potensi perpajakan. Pada sub-topik ini, pembahas hanya menguji legal formal penetapan sebuah kebijakan oleh instansi pemerintah dikaitkan dengan dasar hukum yang menjadi sumber kewenangannya.

Dasar hukum PMK tentang SPN tidak merujuk langsung pada Undang-undang. Tidak ada ketentuan yang mengatur pelaksanaan SPN secara eksplisit maupun implisit. Padahal segala hal yang berkenaan dengan pajak harus berdasarkan Undang-undang. Ketentuan ini mengacu pada konstitusi kita yakni pasal 23A UUD 1945. Karena itu, segala kebijakan perpajakan yang tidak diatur berdasarkan Undang-undang secara yuridis sejatinya bertentangan dengan konstitusi.

Sebenarnya terdapat konsideran yang tercantum pada poin pertimbangan pertama yakni pasal 9 ayat (3) Undang-undang PBB. Namun jika ditelaah secara mendalam, pasal tersebut tidak memberikan keterangan tentang ketentuan pelaksanaan sensus pajak. Terlebih pasal ini juga hanya mengatur PBB/BPHTB, tidak termasuk jenis pajak yang lain.

Relevansi antara substansi pasal 9 ayat (3) Undang-undang PBB dengan esensi pelaksanaan SPN dalam PMK ini cenderung tidak jelas. Pasal 9 ayat (3) Undang-undang PBB mengatur tentang tata cara pendaftaran objek pajak (PBB). Tentu saja spektrum pasal ini terlalu sempit jika diaplikasikan dalam pelaksanaan SPN yang mencakup seluruh jenis objek pajak.

Kedua, PMK 149 terkesan hanya dilandaskan pada pidato kenegaraan Presiden RI mengenai Nota Keuangan dan RUU APBN 2012. Pelaksanaan SPN memang secara gamblang disampaikan Presiden dalam pidatonya ini. Kutipan tersebut berbunyi: “…Untuk mengamankan sasaran penerimaan perpajakan itu, Pemerintah terus melanjutkan langkah-langkah reformasi perpajakan, termasuk melanjutkan reformasi peraturan dan perundang-undangan pajak. Dalam mengoptimalkan penggalian potensi perpajakan, pada bulan September 2011, Pemerintah berencana melakukan Sensus Pajak Nasional. Melalui kegiatan sensus itu, kita ingin cakupan potensi pajak terus meningkat, baik dalam rangka ekstensifikasi maupun intensifikasi perpajakan….”

Permasalahannya adalah isi pidato ini juga bukan sebuah produk hukum, alih-alih sebuah undang-undang yang bisa dijadikan landasan yuridis penetapan sebuah kebijakan perpajakan. Pidato tersebut merupakan penyampaian nota keuangan dan RUU APBN 2012. Secara definisi, pengertian Nota Keuangan adalah laporan pelaksanaan APBN, dan perkembangan penerimaan negara/pendapatan negara, yang meliputi penerimaan perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak dan hibah, serta belanja negara yang meliputi pengeluaran rutin, pengeluaran pembangunan dan dana perimbangan. Dan RUU APBN sebagaimana judulnya hanya merupakan rancangan, belum disahkan menjadi sebuah Undang-undang.

Kesimpulannya, dasar hukum pelaksanaan SPN sebenarnya cukup lemah karena ada unsur kegagalan dalam pemenuhan amanat konstitusi. Seandainya ada pihak yang mengajukan judicial review kepada Mahkamah Agung atas PMK 149, potensi pembatalan peraturan ini cukup besar.

Dari pembahasan ini, simpulan yang dihasilkan tersebut tidaklah diarahkan untuk menentang pelaksanaan SPN. Substansi SPN sudah baik terbukti dengan tujuan mulia yang sudah disampaikan sebelumnya. Hanya saja legalitas kebijakan perpajakan dalam pelaksanaan SPN ini tampaknya perlu disempurnakan lagi.

Posted by: ipung efendy | January 10, 2012

Sahabat

Pagi tadi, saya menerima SMS dari seorang sahabat. Ia meminta PIN blackberry saya. Wah bertambah lagi satu konsumen baru blackberry dan bertambah juga satu nama di kontak blackberry saya. Selanjutnya, dijamin kami akan semakin intens berkomunikasi lewat blackberry messenger.

Ada perasaan dilema yang datang. Dengan bantuan blackberry, persahabatan kami (mungkin) akan semakin dekat. Tetapi hubungan itu rasanya tidak benar-benar nyata. Teknologi komunikasi nan canggih telah mengubah sahabat yang sebelumnya nyata menjadi sahabat “virtual”.

Dulu saat zaman tak secanggih sekarang, kami kerap bertemu. Saling berbagi cerita, saling menyemangati, dan memberikan solusi setiap masalah yang dihadapi masing-masing. Namun lambat laun rutinitas itu hilang. Media pertemuan kami terfasilitasi oleh teknologi. Awalnya, kami memang masih sering bercakap lewat telepon. Lalu karena makin malas menelepon, kami pun beralih ber-chatting ria. Hingga tanpa sadar kami menjadi sangat jarang bertemu. Singkatnya, kami tak lagi bersahabat dengan manusia tetapi dengan gadget masing-masing.

Saya jadi bertanya-tanya apa sejatinya arti sahabat di masa sekarang ini?

Sahabat sebenarnya sama saja dengan teman. Tetapi kita pasti sepakat bahwa sahabat memiliki derajat yang lebih dekat dibanding teman. Untuk menjadi sahabat, kita harus sangat dekat layaknya bersaudara meski tanpa ada hubungan darah. Ada peristiwa-peristiwa emosional dalam tiap fase pertemanan yang pada akhirnya membuat kita menjadikan seseorang sebagai sahabat. Perlu lebih banyak waktu dan kedekatan hingga kita bisa “bersahabat” dengan seseorang.

Gambaran persahabatan ideal itu kurang lebih seperti di serial Friends yang tersohor itu. Saat kita sudah bersahabat, sulit rasanya untuk berpisah.

Itu dulu. Kalau sekarang sedikit berbeda. Kita bisa mendapatkan teman dengan begitu mudahnya. Dengan facebook, kita bisa mengajak orang lain berteman hanya dengan satu klik, “add as friend”. Jika orang tersebut setuju, bertambahlah satu teman kita. Cara berteman pun tak perlu harus bertemu. Semuanya bisa diatur dengan puluhan jenis alat komunikasi dari yang murahan hingga super mahal.

Saya punya ratusan bahkan ribuan teman di dunia maya tetapi tidak semuanya benar-benar saya kenal. Begitu juga dengan teman-teman di kampus, kantor, dan tempat lainnya, saya tidak benar-benar dekat dengan mereka layaknya seorang sahabat. Sebagian hanya mengenal wajah, hanya tahu nama, sebagian lagi bahkan tak pernah bertemu. Wajar karena komunikasi kita kebanyakan dihubungkan oleh telepon atau internet. Seandainya mereka semua bisa saya kenal lebih intim, tentu pertemanan ini akan lebih bermakna.

Dunia memang sudah berubah. Kita tak bisa menafikan kenyataan ini. Tak ada pilihan lain. Kita harus mengikuti perubahan yang ada dengan hidup yang terus diadaptasikan. Begitu juga dengan ragam persahabatan. Kita dituntut untuk berkompromi. Tak apalah kita saling berjauhan dengan sahabat-sahabat kita asalkan esensinya masih tetap ada. Meskipun belum tentu bisa bertatap muka setahun sekali asal kita bisa saling memberikan manfaat satu sama lain, itu sudah cukup. Kita tetap bisa saling berbagi cerita, saling membantu, dan saling membahagiakan. Begitulah seharusnya makna sebuah persahabatan.

Saya teringat definisi sahabat di masa nabi Muhammad. Sahabat nabi tidak sama dengan konotasi sahabat yang kita kenal sekarang. Di zaman itu, bahkan ada seseorang yang hanya sekali bertemu Rasulullah tetapi sudah diberi gelar sebagai “sahabat”. Alasanya, setelah pertemuan itu, si sahabat bisa menerima ajaran kebaikan nabi kemudian mengaplikasikan dan ikut menyebarkan ajaran tersebut. Ia pun berhasil menjadi pribadi yang lebih baik berkat pertemuannya dengan nabi.

Disinilah substansi utama persahabatan. Tidak masalah dimana sahabat itu berada atau dengan apa kita berkomunikasi, seorang sahabat harus bisa membawa kebaikan bagi sahabatnya yang lain. Bukan sebaliknya. Jadi, maukah anda menjadi sahabat saya?

Posted by: ipung efendy | January 9, 2012

Sejarah

Saat di bangku sekolah, saya tidak menyukai pelajaran sejarah. Kelasnya selalu monoton. Murid-murisd hanya mendengarkan guru berbicara lebih tepatnya membacakan buku. Tidak ada ruang untuk berdiskusi. Semua sudah ada di buku. Kita tinggal membaca dan menghafalkannya.

Zaman saya SD, nama mata pelajarannya panjang, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Meskipun masih SD, kami harus menghafal nama-nama pahlawan beserta kisah heroiknya. Padahal jumlahnya ratusan. Setelah SMP dan SMA, mata pelajaran ini berubah nama menjadi Sejarah tetapi tetap saja membosankan. Saking membosankannya, kami hanya mendapat cerita tetapi gagal menelaah nilai-nilai perjuangan sejarah itu sendiri.

learnlovinglife.blogspot.com

Di era orde baru, pelajaran sejarah memang lebih mirip doktrin. Apa yang tertulis di buku sejarah adalah kebenaran mutlak. Wajib diterima tak boleh digugat apalagi dibantah. Apalagi kalau topiknya G-30 S/PKI. Jangan macam-macam pokoknya. Pernah suatu kali saat masih kelas lima SD, salah seorang teman saya iseng menggambar lambang palu dan arit di papan tulis. Tidak lama, guru kami menginterogasi seluruh murid di kelas untuk mencari tahu siapa pelakunya. Teman saya tadi, yang akhirnya mengaku, kemudian mendapat satu tamparan di pipi kirinya. Sadis.

Pandangan saya terhadap sejarah berubah ketika memasuki bangku kuliah. Pada masa ini, informasi bisa diakses dengan begitu mudah. Bahan bacaan tersedia dengan beragam perspektif. Tidak lagi hanya dimonopoli pemerintah.

Saya mendapat pencerahan, ternyata sejarah memiliki banyak sekali versi. Dulu saya memandang fakta sejarah adalah sebagaimana yang ada di buku pelajaran. Padahal setiap buku lebih banyak unsur subyektifnya terutama buku-buku keluaran pemerintah. Tanpa sadar, dulu saya sudah mendefinisikan sejarah sebagai “his story” bukan history.

Banyaknya referensi sejarah memaksa saya merevisi sendiri pemahaman sejarah yang terlanjur melekat di kepala. Saya tak lagi menilai dengan kacamata kuda apakah tokoh A baik atau tokoh B jahat. Selalu ada sisi-sisi kompleks dari sebuah tokoh atau peristiwa.

Sejarah bukan saja tentang tokoh dan peristiwa tetapi tentang sebuah pelajaran hidup. Jangan hanya memaknai sejarah sebagai sebuah cerita belaka. Dalami cerita itu maka akan terlihat banyak sekali nilai-nilai kehidupan. Jangan hanya melihat bagaimana sebuah peristiwa berlangsung tetapi pahami juga apa yang melatarbelakangi peristiwa tersebut serta dampaknya bagi kehidupan saat itu dan sesudahnya.

Sejarah akan selamanya menjadi kontroversi dengan berbagai rupa versi. Ia ditulis sesuai fakta yang subyektif. Tak jarang, sejarah dipoles sedemikian rupa merujuk pada kepentingan penguasa. Mengungkap kebenaran sejarah adalah pekerjaan sulit. Pertama, kita tidak hidup di masa yang diceritakan. Kedua, pelaku sejarah tak selalu menuturkan kisah yang sebenarnya tejadi. Dua alasan ini akan selamanya menjadikan sejarah sebagai topik kontroversi.

Apa yang dulu kita yakini sebagai sebuah cerita kebenaran bisa jadi hari ini sudah terbantahkan dengan versi sejarah yang baru. Tetapi di kemudian hari juga tidak menutup kemungkinan masih akan ada lagi versi fakta yang terbaru. Kita ambil salah satu contoh bagian sejarah paling kontroversial di negara ini, Pemberontakan PKI di tahun 1965. Selama puluhan tahun, fakta sejarah ini ditutupi oleh propaganda dan doktrin pemerintahan Soeharto. Tetapi setelah berganti rezim, sedikit demi sedikit kebenaran sejarah mulai terungkap meski belum seluruhnya tuntas.

Dibutuhkan wawasan yang luas agar bisa memahami sejarah. Ketidaktahuan terhadap fakta secara menyeluruh hanya membuat kita terjebak pada pandangan yang salah. Saya dulu menganggap masa penjajahan Belanda hingga Jepang sebagai masa yang sangat kelam.

Dalam bayangan saya, penjajah adalah pihak yang sangat kejam, mereka berkuasa mutlak, tidak ada yang mengawasi atau membatasi kekuasaan penjajah. Mereka bebas melakukan apa saja termasuk membunuhi anak bangsa. Setelah memahami sejarahnya, ternyata keadaan sebenarnya tak sekelam bayangan saya. Penjajah memang memang menjadi penguasa pemerintahan tetapi ada koridor hukum yang dipakai. Meski otoriter, mereka menerapkan hukum disini, ada penegak hukum, ada pengadilan. Tidak main bunuh orang kecuali dalam keadaan perang. Lihat saja beberapa pejuang bangsa ini. Katakanlah Soekarno, Hatta, Syahrir dkk. Coba pikir, seandainya penjajah Belanda mau bertindak secara diktator, tidak susah bagi mereka untuk membunuh para pejuang itu. Toh mereka lah penguasanya. Kenyataannya mereka tidak melakukan itu. Lepas dari kontroversi yang ada, pengadilan diselenggarakan. Dan mereka tidak dihukum mati hanya diasingkan. Gak kejam-kejam amat kan. Bayangkan ketika zaman Soeharto, seseorang yang belum terbukti bersalah bisa saja tiba-tiba menghilang entah sudah dipenjara, dibunuh atau diapakan. Hanya penguasa yang tahu.

Saya pun ketagihan membaca sejarah. Benar kata orang, sejarah itu sangat menarik jika kita mau menelusuri kebenaran di balik setiap peristiwa…

Posted by: ipung efendy | January 8, 2012

Menemukan Minat Baru

Tak mungkin hidup selalu berjalan mulus. Terkadang ada liku, pun ada persimpangan yang sudah menunggu. Saat sampai disitu, keputusan harus diambil untuk memilih salah satu.

Dulu saya tidak memiliki cita-cita pasti. Seringkali keinginan terbentur dengan keadaan yang tak memungkinkan. Ya, saya selalu berkompromi dengan cita-cita saya sendiri.

Saat SMA, masa dimana saya begitu menggilai buku-buku politik, saya bercita-cita ingin menjadi politisi. Konon sekolah politik yang pas adalah jurusan Hubungan Internasional FISIP. Saya pun memantapkan niat mengambil kuliah disana. Universitasnya harus UI. Saya tidak mau universitas lain karena saat itu hanya UI yang memiliki jurusan HI terbaik di Indonesia.

Malangnya, keadaan finansial orang tua tidak memungkinkan. Saya kurang beruntung, dulu saya tidak punya mentor yang memotivasi saya untuk mengejar mimpi. Tidak ada sosok yang menginspirasi saya agar mengabaikan segala keterbatasan dalam meraih mimpi. Singkat cerita saya kemudian menyerah. Cita-cita itu pun menguap begitu saja.

Sampailah saya di STAN, kampus yang tak pernah saya impikan sebelumnya. Niat berkuliah disana pun datang saat akan lulus SMA. Banyak yang merekomendasikan kampus ini karena kuliah gratis dan lulus langsung kerja. Iming-iming yang sangat pas dengan kondisi keuangan keluarga saya.

ikkp-stan.com

Akhirnya hidup saya mengalir begitu saja. Kuliah sampai lulus kemudian bekerja sebagai pegawai pajak dengan penghasilan yang lumayan besar, menurut ukuran saya. Pencapaian ini sudah termasuk fantastis bagi saya dan keluarga saya yang berasal dr desa. Seketika, keluarga dan kerabat mendaulat saya sebagai “orang besar” karena faktanya memang sangat sedikit anggota keluarga besar kami yang bisa menjadi pegawai negeri apalagi pegawai pajak.

Tak sedikit yang kagum dan berkata ini adlh buah kegigihan dan kerja keras saya. Namun hati kecil saya menganggap itu salah. Ini semua hanya mengalir begitu saja. Tak ada effort berlebih untuk kesuksesan ini. Keberhasilan yang saya dapat sejauh ini sebenarnya tak lebih dari sekedar kemurahan Sang Kuasa.

Sejujurnya saya tak pernah mencita-citakan pekerjaan saya sekarang. Kalau dirunut ke belakang, sejak kuliah saya memang sudah tidak begitu interested. Dari sekian mata kuliah, hanya satu-dua saja yang menarik. Passion saya sepertinya memang tidak di bidang ini. Pekerjaan di kantor pun makin lama makin terasa hambar. Membosankan.

Lalu dimana sebenarnya minat saya?

Hanya orang yang belum mengenal dirinya sendiri yang bertanya seperti ini. Tapi itulah yang terjadi. Meski sudah berumur, saya ternyata masih galau dengan tujuan hidup.

Akhirnya saya mulai mencoba beberapa jenis hobi. Mulai dr mencoba menyibuukan diri dengan bermain game PC hingga fotografi. Ternyata belum ada yang benar-benar membuat saya enjoy.

Hingga kemudian, saat fasilitas internet semakin mudah diakses, saya menemukan gairah baru untuk membaca dan menulis. Selanjutnya perkenalan saya dengan Twitter membantu saya berinteraksi dengan beberapa penulis ternama. Mereka lah yang kemudian menginspirasi saya.

Ketertarikan dengan dunia menulis memang sudah ada sejak SMA namun itu tidak menjadi hobi atau kegiatan yang konsisten saya jalani. Kini kegiatan itu tiba-tiba saja kembali menjadi sesuatu yang menarik. Mengikuti tulisan para penulis besar menjadi rutinitas baru. Inspirasi dan semangat mereka membangkitkan minat saya yang lama tenggelam. Sampai pada titik ini saya merasa kembali menemukan kegiatan yang bisa membuat saya enjoy. Tekad menjadi penulis pun saya tanamkan dalam-dalam.

Apakah saya mampu menjadi penulis besar? Itu keraguan yang kemudian muncul. Namun saya tak mau lagi berkompromi pada cita-cita saya. Sudah cukup saya belajar dari kegagalan yang lahir dari keraguan. Kali ini saya tidak akan gagal. Seperti kata orang, resep untuk berhasil adalah perpaduan antara keyakinan dan kerja keras. Saya harus memilikinya.

Untuk mempertebal keyakinan itu, saya melakukan satu tes untuk diri saya sendiri. Ada sebuah rubrik khusus untuk mahasiswa di harian Kompas yaitu Kompas Kampus. Di dalamnya terdapat Kolom “Argumentasi” yang memuat beberapa komentar pendek mahasiswa tentang sebuah isu. Saya berpikir untuk membuat sebuah tulisan argumentasi. Tulisan ini akan menjadi uji kemampuan saya. Jika pada edisi berikutnya tulisan ini dimuat artinya saya punya bakat.

Rubrik Kompas Kampus memang bukan halaman utama di harian Kompas. Kolom Argumentasi juga hanya memuat tulisan pendek 3-5 paragraf. Kesimpulannya, kolom ini hanyalah kolom ecek-ecek. Tetapi saya ingin menjadikan tes ini untuk mengukur bakat saya. Seandainya tulisan ini tidak layak muat, tandanya saya harus lebih banyak berkaca dan merumuskan langkah-langkah baru untuk mewujudkan passion saya.

Saat itu juga saya tulis sebuah tulisan pendek sesuai topik yang diminta. Saya perhatikan betul tulisan saya agar benar-benar layak muat. Tidak lama tulisan itu selesai dan saya kirim ke alamat e-mail redaksi.

Minggu berikutnya, seperti biasa saya beli koran Kompas dari loper langganan yang selalu lewat di depan rumah. Perhatiannya saya langsung tertuju pada lipatan terpisah yang berisi halaman rubrik Kompas Kampus. Saya buka. Di halaman itu langsung terlihat foto berikut tulisan pendek saya. Ya! Tulisan saya ternyata benar-benar dimuat. Pagi pun semakin cerah dengan senyum mengembang di bibir.

Saya yakin saya bisa. Jalan masih panjang ada banyak fase yang harus saya lalui dengan ketekunan dan kerja keras. Terima kasih Tuhan atas gairah yang Kau berikan ini.

Posted by: ipung efendy | January 6, 2012

Pelajaran dari Si Mbak

Hari ini asisten rmh tangga kami yg baru mulai bekerja. Saya memanggilnya si Mbak. Dia msh tetangga kami. Rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari tempat kami tinggal. Jadi, selain sudah sangat kenal, kami juga sangat percaya pada si mbak.

Si mbak berdarah keturunan Jawa. Orang tuanya dari Jawa Tengah. Seperti org Jawa pd umumnya, pembawaannya murah senyum, kerjanya halus dan telaten, satu lagi, si Mbak juga “sungkanan”. Setiap kali mau melakukan sesuatu yang dirasa akan mengganggu, si Mbak mendahuluinya dengan minta ijin, atau bertanya karena takut salah. Kata maaf juga sangat sering diucapkan si mbak.

Saya dan istri saya bukan tipe orang yg suka memandang kelas seseorang. Kami sdh menganggap si mbak spt saudara sendiri. Selalu kami tekankan tak perlu sungkan di rumah kami. Kalau ada makanan silakan dimakan tak perlu mnt ijin atau menunggu disuruh makan. Bahkan kami persilakan kalau dia mau menyisihkan makanan untuk anaknya.

Tapi dasar si mbak, susah sekali menyuruhnya makan. Pernah kami paksa makan, ternyata dia mengambil porsi yang sangat sedikit. Setelah dimarahi, baru dia mau nambah. Meski kami pikir itu tetap masih sedikit.

Ditanya alasannya, si mbak bilang ingin menyisakan jatahnya untuk anaknya di rumah. Biarlah ia makan sedikit asal anaknya ikut kebagian jatah makanannya.

Kami jadi shock. Tak pernah kami menjatah makanan untuknya. Dengan sedikit marah, istri sy meminta si mbak tak perlu sesungkan itu. Silakan makan sesuai kebutuhan dan tetap berikan juga untuk anak si mbak di rumah.

Sontak saya merasa iba. Keadaan ekonomi si mbak memang tak bisa dibilang bagus. Suaminya baru mendapat pekerjaan lagi setelah lama sekali menganggur. Di rumahnya, ia tinggal dengan orang tua dan beberapa saudaranya yg sdh berkeluarga. Si mbak jg yg memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumahnya.

Tetapi di balik kesusahan itu saya bisa melihat ketegaran di diri si mbak. Ia mau bekerja keras demi ikut menghidupi keluarganya. Ia pun rela berkorban banyak untuk kebahagiaan anaknya. Inilah potret kebesaran hati seorang ibu.

Ibu, dimanapun ia, kemuliaan hatinya tetaplah sama. Ia adalah orang yg pertama ikhlas mengalah demi melihat suami dan anak-anaknya tersenyum bahagia. Berapapun rezeki yang didapat, yang pertama dipikirkannya adalah memberikan itu kepada suami dan anaknya. Bagian untuk dirinya adalah prioritas terakhir.

Sayang, kita seringkali tak pernah mau mengerti. Kita terlalu banyak menuntut. Jika ibu memberikan apa yang kita mau, kita menganggap itu sebagai suatu hal yang wajar. Tak ada yang istimewa. Tetapi saat keinginan kita tak terpenuhi, murka langsung terarah pada sang ibu. Sungguh sabar seorang ibu yang tak pernah menyimpan dendam pada sang anak.

Si mbak mengingatkan saya pada sosok ibu di kampung halaman. Ibu yang sudah berkorban banyak untuk kehidupan saya. Ibu yang tak pernah mengharap pamrih atas semua kebaikan yang sudah ia berikan. Ibu yang hingga kini masih bersedia melakukan apa saja demi kebahagiaan buah hatinya. Ibu yang tak pernah mengeluhkan keadaannya di depan kami, anak-anaknya. Sebaliknya, saat kami dilanda kesulitan, tanpa diberi tahu pun ibu seperti sudah mengerti lalu tiba-tiba saja mengulurkan tangan menawarkan pertolongan. Betapa mulia hatinya.

Ibu, tak ada tempat yang lebih pantas bagimu kelak, selain di surga. Terima kasih, Ibu.

Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: